Thursday, August 1, 2013

Kapal Apung Aceh

Anda ingin mengetahui bagaimana dahsyatnya tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam? Hingga saat ini, bukti bencana yang menewaskan lebih 150.000 warga masih berdiri kokoh di Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh.
Setelah amuk air laut menghantam Aceh dan beberapa daerah lainnya di Indonesia bahkan beberapa negara lainnya, ratusan ribu bahkan jutaan orang telah datang ke tempat ini, untuk membuktikan seberapa kuatnya gelombang raya yang telah meluluhlantakkan provinsi paling barat Pulau Sumatera.
Wisatawan yang datang ke tempat ini bukan hanya warga lokal baik itu dari Aceh maupun luar Aceh. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Aceh juga tidak akan melewatkan peninggalan tsunami yang telah menjadi objek wisata bahkan beberapa hari setelah bencana yang mengundang perhatian dunia internasional.
Objek wisata yang terletak di tengah Kota Banda Aceh ini bernama Kapal PLTD Apung atau kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang awalnya berlabuh di pinggir laut Ulee Lheue, Kota Banda Aceh. PLTD Apung pada 2003 dibawa ke Aceh untuk memenuhi kebutuhan listrik di provinsi yang saat itu sedang bergolak.
Ketika itu, Provinsi Aceh kesulitan arus listrik, sehingga Gubernur Aceh yang saat itu Abdullah Puteh, meminta PLN menambah arus listrik untuk Provinsi Aceh. PLN mengirim kapal pembangkit listrik yang dibuat pada 15 Oktober 1966 di Finlandia dengan jenis mesin Wartsila.
PLTD Apung itu mampu menyalurkan listrik 10 megawatt serta mempunyai berat 2.600 ton, panjang 63 meter dan lebar 19 meter. Sebelum dibawa ke Aceh, PLTD Apung ini mempunyai tugas yang panjang mengatasi krisis listrik di Tanah Air di antaranya di Pontianak tahun 1997, Bali tahun 1999, dan kembali ke Pontianak tahun 2001.
Terseret Air
Saat tsunami terjadi, kapal yang beratnya mencapai 2.600 ton tersebut terseret hingga 3 kilometer dengan melewati rumah penduduk. Sejumlah rumah penduduk yang dilewati kapal tersebut tidak rusak hingga kapal itu bersandar di tengah permukiman.
Objek wisata tsunami ini sangat mudah dijangkau dari pusat kota Banda Aceh, bahkan pengunjung dapat berjalan kaki untuk dapat mencapai PLTD Apung yang telah didengar oleh sebagian masyarakat Indonesia dan dunia.
Memasuki objek wisata ini, pengunjung atau wisatawan juga tidak dipungut biaya masuk atau tiket. Wisatawan hanya diminta membayar parkir Rp 2.000 lalu bisa seharian menikmati dan mendengar cerita bagaimana kapal besar tersebut dapat mencapai perkampungan penduduk.
Saat pulang, pengunjung hanya diminta mengisi kotak sumbangan yang telah ditempatkan di pintu masuk kompleks PTLD Apung. Tidak ada patokan sumbangan yang akan diberikan, karena warga hanya meminta seikhlas pengunjung.
Di objek wisata ini, pengunjung tidak hanya dapat berkeliling di bawah kapal, tapi juga dapat menaiki kapal bahkan hingga ke geladak paling atas. Dari sana, pengunjung dapat melihat suasana Kota Banda Aceh dari kejauhan, termasuk tempat kapal yang dinaiki tersebut berada sebelum diempas gelombang besar tersebut.
“Di atas kapal, masyarakat yang mengelola objek wisata ini juga telah menyediakan teropong agar pengunjung dapat melihat pemandangan kota dengan mudah. Namun, untuk memakai ini kami mengharuskan pengunjung membeli koin khusus, harga koin itu hanya Rp 1.000,” ujar Syukri, salah seorang pemandu di PLTD Apung.
Sejumlah rumah penduduk yang hancur karena dihantam tsunami juga terdapat di kompleks wisata ini, sehingga di samping dapat melihat kapal PLTD Apung, pengunjung juga dapat melihat langsung bagaimana kondisi rumah yang rusak karena tsunami.
Syukri menyebutkan, objek wisata PLTD Apung dibuka pada pukul 08.00 hingga menjelang salat duhur, pada pukul 12.30, dibuka kembali pukul 14.00 WIB hingga menjelang salat magrib. “Kami hanya menutup sementara saat sedang waktu salat. Setelah salat selesai, kami akan membuka kembali agar dapat dimasuki wisatawan,” tutur Syukri.
Menurut Syukri, setelah tsunami terjadi, cukup banyak wisatawan yang datang ke tempat ini. Ratusan orang setiap hari datang silih berganti untuk membuktikan bahwa tsunami yang pernah menghantam Aceh pada penghujung 2004 silam sama seperti cerita orang-orang. “Yang paling banyak pengunjung saat liburan sekolah, dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari berbagai negara,” kata Syukri.
Fransisca, wisatawan asal Inggris, Rabu (19/6) mengatakan, sebelumnya ia hanya mampu mengkhayal seperti apa tsunami yang terjadi di Aceh dan beberapa negara lainnya. Setelah melihat kapal PLTD Apung, mahasiswi tersebut sudah dapat memperkirakan bagaimana kekuatan air bah itu.
“Dulu saya hanya mendengar tsunami yang melanda Aceh ketinggian gelombangnya setinggi pohon kelapa dan kekuatannya mampu merusak bangunan, tapi bingung. Setelah saya melihat kapal ini, saya sudah dapat memperkirakan bagaimana kuatnya tsunami yang melanda Aceh,” Fransisca mengungkapkan.
Ia mengaku sudah sangat ingin berkunjung ke Kapal PLTD Apung sejak 2005 setelah menyaksikan di televisi dan membaca surat kabar bahwa saat tsunami terjadi di Aceh, ada kapal besar yang terdampar ke permukiman penduduk.
“Namun, rencana untuk datang ke Aceh dan melihat PLTD Apung secara langsung, baru dapat saya lakukan sekarang,” ucapnya.
Anda juga ingin membuktikan seperti apa kekuatan tsunami yang terjadi di Aceh hingga bantuan dari berbagai negara, silakan datang ke Kapal PLTD Apung. Di sana, Anda akan kagum bahwa laut dapat mengamuk hingga mampu menyeret kapal yang beratnya 2.600 ton sejauh 3 kilometer,.

No comments:

Post a Comment